Untuk dapat menolong sesama, tidak perlu menunggu menjadi kaya ataupun memiliki harta yang melimpah. Tuhan telah memberikan sesuatu yang sangat berharga yang bisa dibagikan kepada yang membutuhkan. Menyumbang uang mungkin sudah biasa, pernah ada yang berpikiran untuk menyumbangkan darah?
Darah yang ada di dalam tubuh kita adalah nyawa, menyumbangkan darah sama halnya dengan menyumbangkan nyawa. Tapi sayang di dunia ini, para sukarelawan pendonor darah sangat sedikit, sedangkan kebutuhan darah per tahunnya sangatlah banyak, contohnya Indonesia, kebutuhan darah di Indonesia lebih dari 4 juta kantong darah. Sedangkan di PMI hanya bisa menyediakan sekitar 1 juta lebih kantong darah. Kemudian kemana sisa yang 3 juta?
Andaikan saja 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia mau menyumbangkan darahnya, ya hanya 1,5%. Kita bisa menghitung. Jumlah penduduk indonesia kurang lebih 300 juta jiwa. 1,5 % dari 300 juta adalah 4.500.000. Artinya kalau rakyat 1,5% dari jumlah rakyat Indonesia mau menyumbangkan darahnya, mungkin angka kematian di Indonesia akan menurun. Jangan sampai kita menyalahkan pihak-pihak yang menyediakan darah, seperti PMI dan rumah sakit yang tidak bisa menyediakan stok darah ketika lagi membutuhkan.
Al Fisher adalah seorang kakek asal Amerika yang berusia 75 tahun, dimana dia sudah 320 kali mendonorkan darahnya, itu berarti Al Fisher telah mendonorkan darahnya sebanyak 40 gallon. "Saya terlalu miskin untuk membantu dengan uang, jadi saya berikan saja darah saya untuk bisa membantu orang lain".
Mungkin dengan cara sederhana itu, kita bisa berbagi. Mungkin masih bayak yang merasa takut. Ketakutan itu akan hilang dan berubah menjadi senyum ketika darah yang kita miliki dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Bukankah manusia itu diciptakan sebagai mahluk sosial, mahluk yang saling membantu.
"Jika Anda ingin dikasi oleh sesama, kasihilah sesamu terlebih dahulu. Jika ingin di tolong oleh sesama, tolonglah mereka terlebih dahulu. Jika Anda ingin dibantu, bantulah dahulu sesamamu. Ingat, semuanya diawali oleh Anda lebih dahulu". - Johanes F Koraag -
No comments:
Post a Comment