Hargai Waktu Sedini Mungkin

Share it Please

Kita gak tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mungkin akan berakhir dengan bahagia seperti film ftv, atau akan berakhir sedih.

Udin adalah seorang mahasiswa. Di tahun ini dia sudah menginjak semester akhir, tapi bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, bingung, cemas dan rasa takut. Mungkin semua rasa itu tidak ada kalau saja dulu dia menghargai waktu yang diberikan kepadanya. Selama berkuliah dia hanya menyelesaikan semester satu dan dua, selebihnya dia hanya menganggur. Bukan tanpa alasan Udin menganggur, tidak seperti teman sekelas lainnya yang belajar menggunakan laptop dan Udin hanya belajar ditemani oleh sebuah buku binder yang dia beli sewaktu semester satu. Maklum saja, jurusan yang Udin berhubungan dengan komputer, dimana mahasiswanya wajib menggunakan laptop disaat proses belajar mengajar. 

Sebenarnya Udin memiliki laptop yang di belikan oleh ayahnya, tapi nasib berkata lain, laptop yang di belikan untuk Udin harus di ikhlaskan kepada orang yang tidak bertanggung jawab. Ya. Laptop yang Udin nantikan selama ini hilang. Di situlah Udin mulai belajar kembali menggunakan buku bindernya. Di keluarkan dari ruangan mungkin hal biasa, tapi hari itu adalah ujian tengah semester. Udin harus rela di keluarkan dari ruangan dan tidak bisa mengikuti ujian.

Setiap masuk kelas Udin duduk di bangku pojok, ya itu adalah tempat paling nyaman untuk menjauh dari kejaran mata dosen. Iri mungkin melihat teman-teman tengah asyik mengerjakan project yang diberikan oleh dosen, sedangkan Udin hanya bisa menggambar gak jelas di buku kesayangannya. Dari situlah Udin mulai membolos kuliah sampai semester akhir. Setiap harinya Udin hanya mengurung diri di kamar kos, tidur dan makan, itulah yang dilakukan setiap hari.

Kegalauan Udin semakin menjadi ketika ayahnya mengatakan "kapan wisuda?". Selama ini ayah Udin tidak tahu apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Tapi Udin tetap menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan memberi harapan "Insya allah yah, semoga bisa cepat". Sebenarnya Udin sangat malu kepada ayahnya. Keinginan Udin sekarang hanyalah tamat kuliah, sudah gak peduli lagi dengan IPK, tidak peduli lagi dengan predikat cumlaude, yang ada di pikiran Udin sekarang adalah lulus dan lulus walaupun berat. Pepatah mengatakan "sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga". Begitu juga Udin, sepandai-pandainya dia berbohong, suatu saat pasti akan ketahuan juga. 

Kisah Udin membuka mata kita untuk menghargai waktu. "Kadang memang benar adanya, kalau sayatan luka di hati bisa  disembuhkan oleh waktu. Tetapi jika kita mau memutuskan untuk menyembuhannya lebih cepat, maka kesembuhan itu pun bisa terjadi. Sembuh atau tidak, itu soal keputusan kita. Kalau kita berlama-lama merawat rasa sakit itu, ya kita tetap sakit. Andai kita mau menyembuhkannya, kita pun akan sembuh. Ingatlah, jangan sampai masa lalu yang buruk itu membunuh kebahagiaan masa depan kita". Itulah yang dikatakan mas Dwi Suwiknyo dalam bukunya.

No comments:

Post a Comment

Tentang Blog

Blog ini saya buat untuk menulis keresahan hati dalam bentuk cerita sehari-hari, yang mungkin agak aneh dan eemm 'aneh' .. yahh aneh (sudah lupakan). Suka menulis adalah hal berikutnya saya membuat blog ini. Semoga terhibur. Ingin tahu saya lebih jauh? saya adalah zahar

Blog Archive